pembaharuanpost.com.—-Bendungan Pamukkulu yang berlokasi di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, diproyeksikan untuk mengairi lahan pertanian atau sawah seluas 6.150 hingga 6.430 hektar. Sehingga Kehadiran bendungan ini diharapkan mampu meningkatkan Indeks Pertanian (IP) warga dari 150 persen menjadi 250 persen
Namun apa yang terjadi ?. hingga hampir 2 tahun setelah peresmiannya oleh Presiden Joko Widodo pada 5 Juli 2024 lalu belum berfungsi sebagaimana tujuannya.
Lantaran sampai sekarang jaringan irigasi dengan nilai kontrak Rp. 29.8 Miliar untuk mengairi areal persawahan pada dua kecamatan yaitu Polombangkeng Selatan dan Kecamatan Mangarabombang. Sampai sekarang belum bisa diwujudkan. Akibatnya para petani pada Dua kecamatan tersebut menjerit dan sangat khawatir tidak akan mendapatka suplai air.
Hal ini lantaran saluran irigasi yang di kerjakan PT. Jaya Etika Beto di duga ditinggalkan dan kini terkesan mangkrak dan hanya meninggalkan pekerjaannya dalam bentuk galian saja dan tidak menampakkan sebagai saluran irigasi yang sesungguhnya.
Seorang petani bernama Daeng Rate, asal kecamatan Polong bangkeng Selatan sangat menghawatirkan kondisi saluran air yang Cuma merupakan saluran galian saja. Kepada Media mengungkapkan. “ Kami sangat mengkhawatirkan kondisi saluran air itu, karena bisa saja tiba-tiba longsor tergerus air apalagi kalau musim hujan tiba.”
Lain yang di ungkap Daeng Rate. Daeng Ronrong petani asal Bulukkunyi bersama warga tani lainnya meminta kepada kontraktor pelaksana agar segera menuntaskan pekerjaannya. “ Kami sangat berharap agar pihak kontraktor segera menuntaskan pekerjaannya.”
Menurut pemantauan media bahwa proyek senialai Rp. 29.8 M ini telah diselesaikan oleh Pihak pelaksana PT. Jaya Etka Beto sebahagian, namun masih meyisakan kurang lebik 3 Km.dan sisa ini lah yang jadi penghambat distribusi suplai air keareal persawahan di wilayah Kecamatan Polombangkeng Selatan dan Wilayah Kecamatan Mangarabombang.
Jadi sangat diharapkan kepada pihak pelaksana proyek dalam hal ini PT. Jaya Etka Beto untuk segera menyelesaikan dan menuntaskan pekerjaan ini. Sehingga proyeksi tujuan Pembangunan bendungan Pammukkulu yang menelan biaya sekitar Rp. 1.83 Trilyun ini bisa bermanfaat maksimal dan dinikmat oleh para kaum tani. Sehingga kekhawatiran akan devisit suplai air pada setiap musim tanam tidak menjadi kekhawatiran lagi.
Ataukah kalau pengerjaan proyek irigasi ini telah terindikasi merugikan keuangan Negara, maka untuk menyelamatkan uang rakyat, yang tidak dinikati sepenuhnya oleh rakyat. Maka sangat di harapkan kepada pihak KPK-RI, untuk segera terjun langsung menyelidiki masalah ini.
Sementara pihak kontraktor PT. Jaya Etika Beto yang berusaha dimintai konfirmasinya masih belum memberikan jawaban. (c/dm)
Leave a Reply