Oleh : Bohari Daeng Siki
Terkabar sebuah kisah keturunan Daeng
Sang Daeng Mangalle dari tanah Karaeng
Anak Sultan Hasanuddin Daeng Mattawang
Daeng Mangalle adik kandung dari Karaeng Galesong
Perjanjian Bungaya tahun 1667 Masehi
Antara Kerajaan Gowa dan VOC Belanda
Mengakhiri perang yang begitu lama
Deklarasi Bungaya tanda kekalahan Gowa
Sedangkan Daeng Mangalle pantang tunduk kepada Belanda
Daeng Mangalle pergi ke pulau Jawa
Lalu Mempersunting Angke Sapiah
Putri salah satu keturunan para raja
Yang masih berdarah raja Makassar Gowa
Tiga tahun Daeng Mangalle di tanah Jawa
Di Jawa Daeng Mangalle melawan Belanda
Agar penjajah Belanda pergi dari Nusantara
Dengan kegigihan perlawanan membara
Daeng Mangalle tak pernah gentar pada Belanda
Lalu Daeng Mangalle mencari suaka
Pergi ke negeri Siam bersama pengikutnya
Memohon pada Raja Siam Ayutthaya
Tanah raja Narai yang tak pernah dijajah
Kedatangan mereka disambut raja Narai
Diberikan pemukiman di pinggir sungai
Bersama orang-orang Melayu dan Campa
Dalam satu entitas komunitas satu agama
Kini Daeng Mangalle bagian dari Ayutthaya
Reputasi Daeng Mangalle sang pemberani
Suku Campa, Melayu, Persia mengetahui
Dengan cepat membangun berbagai relasi
Demi satu tujuan hidup berdikari mengabdi
Daeng Mangalle dengan 200 pengikutnya
Membangun rumah-rumah tempat singgah
Tuk bermukim kerabat, sahabat & saudara
Daeng Mangalle sang pemimpin dari Gowa
Hari berganti hari
Waktu berganti waktu
Tahun berganti tahun
Lama sudah Daeng Mangalle di Siam
Semua kenyamanan tiba-tiba berubah
Tatkala raja Ayutthaya datangkan tentara
Para serdadu Perancis jadi pengawal raja
Dipimpin oleh Claude de Forbin
Melindungi raja yang takut dikudeta
Phrai Narai sang raja Ayutthaya
Bangun hubungan ke berbagai Negara
Sebagai kerjasama dua Negara
Juga sebagai pelindung kuasa raja
Bagi Daeng Mangalle pangeran dari Gowa
Kedatangan Perancis ke kerajaan Ayutthaya
Menjadikan kedudukan raja semakin gila
Sehingga orang timur dijadikan budak belia
Komunitas suku lain pun merasa geram
Atas tindak tanduk raja Narai di Siam
Begitupun sang Pangeran Thailand
Bernama Phra Petracha kakak tiri raja siam
Tidak suka pada raja Narai yang pro kebarat-baratan
Phra Narai raja Siam kerajaan Ayutthaya
Membiarkan orang Eropa masuk Istana
Pemimpin Perancis Claude de Forbin
Diangkat menjadi Gubernur Bangkok
Diluar istana banyak terjadi kabar burung
Rakyat pun semua pada jadi bingung
Kemana mereka harus berlindung
Karena kekuasaan raja tak dapat dibendung
Bahkan pangeran Ayutthaya kini kan ambil panggung
Orang Champa dan Melayu buat rencana
Tuk memberontak kerajaan Ayutthaya
Raja yang bersekutu dengan orang Eropa
Pangeran Ayutthaya pun ikut jua
Daeng Mangalle pemimpin dari Makassar
Diajak mereka tuk ikut dalam rencana
Melawan raja Ayutthaya dan orang Eropa
Karena raja Narai sudah merasa lupa
Akan enaknya kuasa, harta dan tahta
Sehingga banyak rakyat dijadikan budaknya
Rencana pemberontakan diketahui raja
Koalisi antara Melayu dan orang Champa
Orang Persia & pangeran Ayutthaya ikut jua
Melawan pasukan kerajaan siam dan Eropa
Raja Phra Narai menghentikan makar itu
Orang Champa & Melayu minta maaf
Lalu Daeng Mangalle diminta oleh raja
Untuk segera memohon ampun pada raja
Tapi ditolak Daeng Mangalle mentah-mentah
Daeng Mangalle menolak tunduk memohon
Kepada raja atas semua tuduhan
Bahwa dirinyalah inisiator rencana pemberontakan
Padahal rencana suku Melayu dan Champa
Untuk memberontak kepada raja Ayutthaya
Meskipun Daeng Mangalle tahu rencana
“Bagi orang Makassar pantang membocorkan rahasia teman sezaman, juga pantang berkhianat pada orang yang telah baik padanya”
“Tidak ada darah Makassar keturunan pemberontak, keturunan-keturunan Makassar adalah orang-orang setia kawan dan para pemberani dalam sejarah bangsa yang selalu terdepan dalam membela teman sezaman”.

Tentang penolakan meminta maaf ini, sejarawan Perancis Christian Pelras menulis :
“Hanya pangeran Makassar yang menolak meminta maaf. Alasannya, dia tidak pernah mau memberontak. Hanya saja kesalahannya adalah bahwa dia tidak melaporkan rencana pemberontakan orang Melayu dan Campa kepada Raja Siam alasan sang Daeng Mangalle karena dia juga tidak mau mengkhianati ke dua sahabatnya dengan membuka rahasia yang telah dipercayakan kepada Daeng Mangalle. Bagaikan buah simalakama.”
Bagi Daeng Mangalle si Pangeran Makassar
Pantang mengadu rencana sahabatnya
Kepada raja Siam kerajaan Ayutthaya
Untuk membongkar rencana sahabatnya
Begitupula pantang tuk memberontak raja
Karena Daeng Mangalle bukan bagian dari kelompok pemberontak
Ia memilih mati ketimbang dituduh sebagai pemberontak
Lalu dengan gagah Daeng Mangalle berkata pada raja
“Mengenai orang yang telah menghadap Paduka raja, saya harus katakan bahwa saya tidak mempercayainya sedikit pun, karena sekarang ini perdana menteri Ayutthaya adalah orang Prancis (Constantine Phaulkon) dan antara saya dan dia ada saling benci dengan alasan perbedaan agama,” ujar Daeng Mangalle saat menghadap raja Phra Narai”.
Akibat suara keberanian Daeng Mangalle
Wilayah kampung Makassar dikepung
Oleh beberapa tentara pasukan pendukung
Selama satu bulan pengepungan
Raja Siam pun kehilangan kesabaran
Ia memerintahkan dengan segala kekuatan
Untuk memerangi kampung Makassar
Yang dituduh melakukan pemberontakan
Dua kapal Makassar dipinggir sungai
Diblokir oleh pasukan Perancis
Agar mereka tak pergi dari Siam
Karena raja Siam memerintahkan perang
Enam orang Makassar sebagai delegasi
Bermusyawarah pada prajurit Perancis
Agar jangan menghalang-halangi
Tapi prajurit Perancis melucuti badik mereka
Untuk segera tunduk dan menghormati raja
Suku Makassar menolak tunduk pada raja
Atas semua tuduhan yang tidak mereka lakukan sama sekali
Seketika itu juga terjadilah kontak senjata
Peperangan pun pecah
Di daerah sungai Chao Phraya
Melawan serdadu Eropa
Pasukan Daeng Mangalle jumlah 47 orang
Melawan 700 orang serdadu Eropa
Hanya dengan badik dan tombak
Sungai pun menjadi merah darah
Pasukan serdadu Eropa mundur ke istana
Enam orang mengejar menuju pagoda
Lalu membunuh 366 orang pasukan Eropa
Juga membunuh para biarawan disana
Burung pemakan bangkai pun riang tawa
Pasukan Makassar bagaikan kesetanan
Tak takut mati di Medan pertempuran
Membuat musuhnya kocar kaciran
Sungguh keturunan pemberani Bangsawan
Sungai-sungai merah jadi darah
Tanah-tanah menjadi ladang amarah
Darah muncrat dimana-mana
Suku Makassar membunuh mereka semua
Orang-orang Makassar yang gagah berani
Hadapi prajurit Eropa dengan semangat siri
Keyakinan bela kehormatan sampai mati
Semua musuh jatuh berdarah tewas diri
Siasat licik blokir kapal orang Makassar
Kini jadi amuk perang yang sangat brutal
Claude de Forbin jendral prajurit Perancis
Hampir saja kehilangan nyawanya nyaris
Raja Ayutthaya Phra Narai gigit jari
Sambil merenung cari strategi
Untuk mengadakan perang kembali
Pada suku Makassar yang gagah berani
Raja memerintahkan perang besar-besaran
Untuk menghabiskan semua perkampungan
Kampung Makassar tanah pemukiman
Para suku Makassar sudah siap melawan
“Sekali layar berkembang pantang surut ke belakang”
Pertempuran hebat terjadi di kampung itu
Orang-orang Makassar jumlah puluhan itu
Melawan empat ribu pasukan Eropa & Siam
Pasukan Eropa & Siam pun dipukul mundur beberapa kali
Pasukan Eropa bersama pasukan Siam
Melakukan serangan total membabi buta
Berkobar api amarah dimana-mana
Pasukan Eropa gunakan senjata meriyam
Sedangkan suku Makassar hanya pakai senjata badik dan tombak
Dengan gagah berani mereka melawan ribuan pasukan Eropa dan Siam
Daeng Mangalle terluka lima tusukan
Tangannya pun tertembak pasukan Siam
Dalam keadaan terluka parah tubuhnya itu
Daeng Mangalle bunuh Menteri Ayutthaya
Juga membunuh seorang perwira Inggris
Sebelum pada akhirnya tewas terkapar
Itulah kehebatan para suku Makassar
Para pemberani tak pernah gentar
Di Medan laga mengukir sejarah
Sejarah mempertahankan maruah
Penduduk rakyat Siam sangat kagum
Pada keberanian orang-orang Makassar
Hanya dengan puluhan prajurit tempur
Mampu membunuh ribuan pasukan tentara
Keberanian yang sangat luar biasa dalam catatan sejarah
Ir Soekarno pernah berkata :
“orang-orang yang paling berani di Nusantara ini adalah orang-orang Makassar”
Orang-orang Siam mencatat peristiwa itu
Sebagai peristiwa heroik kala itu
Daeng Mangalle kini dikenang orang Siam
Petarung hebat pembela kehormatan
Warga Siam mengabadikan nama Makassar
Menjadi sebuah nama jalan
Di distrik ibukota Bangkok Thailand
Yang ditulis sesuai lidah orang Siam
Yaitu dengan tulisan Makassan
Dulu bernama Krung Thep daerah kawasan
Ditulis oleh #Bohari di Kota Wisata Cibubur, Kamis 14 Juli 2022, Pukul 05.27 WIB
#Kisah#DaengMangalle#Pangeran#Makassar#Karaeng#Gowa#Pejuang#KeturunanBangsawan#Pemberani

Tinggalkan Balasan