KEPEMIMPINAN PROGRESIF (2): Oleh: Sastro A. Syafaruddin, SH.

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

PP.Opini. “KEMITRAAN KOLABORATIF” Menelisik fenomena kepemimpinan di ranah instansi pemerintahan saat ini, ternyata tidak banyak kesusaian antara das sollen dan das sein. Karenanya kita butuh role model pemimpin yang bisa berperan sesuai dengan tujuan aslinya. Demikian pula kenyataan yang tidak bisa dimungkiri, bahwa saat ini kita memang memiliki banyak regulasi, baik undang-undang, peraturan-peraturan maupun keputusan-keputusan. Akan tetapi ironisnya, tidak jarang yang hanya berakhir menjadi macan kertas.

Di tengah realita tersebut, kita juga menyaksikan fenomena di mana seorang pemimpin diharuskan bahkan dipaksa untuk bisa berkolaborasi dan berinovasi dengan tujuan minimal dapat menjaga eksistensi sebuah instansi. Oleh karenanya, pemimpin dalam instansi pemerintahan yang ruang lingkupnya sempit sekalipun jika diramu dengan prinsip kolaborasi dan inovasi dapat menjadi pijakan dalam menciptakan pemimpin dalam skala organisasi yang besar.

Sederhanya, instansi pemerintahan dengan ruang lingkup yang sempit haruslah bermitra dengan lembaga-lembaga lain, bukan memposisikannya pada kedudukan penghambat dalam kerja instansi. Posisi mitra ini mestinya menjadi stimulus dalam memuluskan kepentingan instansi dengan pendekatan kearifan lokal, sebab menunduk bukan berarti tidak menanduk. Jika sinergi sudah terbangun erat maka aksebilitas akan bisa fleksibel dan harmonisasi hubungan emosional pun akan baik.

Kemudian pada tataran horizontal, jalinan sinergi antarlembaga minimal sejajar dan semestinya menjadi agenda prioritas, semisal menghadiri rapat-rapat intern instansi pemerintahan atau rapat-rapat lain baik level lokal maupun nasional secara berkala dan berkelanjutan termasuk cara dan momentum dalam mengevaluasi kondisi lembaga di samping terus-menerus membangun jaringan untuk kepentingan jangka panjang organisasi. Bukan sebaliknya, menutup ruang gerak bercengkrama dengan lembaga yang lain. Bahkan kompetitor sekalipun diperlukan untuk menjadi motivasi dalam melakukan maintenance organisasi. Kiranya forum seperti ini harus dipahami sebagai bentuk imunisasi lembaga dalam melebarkan sayap.

Di samping itu, kita sering mendengar strategi the right man on the right pleace, sebuah konsep yang melintang dalam instansi pemerintahan yang berorientasi kepada penguatan kemampuan instansi dalam menjawab sebuah tantangan. Keberhasilaan atau kegagalan organisasi terletak pada perceived quality terhadap orang-orang yang berada di posisi pucuk pimpinan. Pun, pejabat teras harus memiliki kesamaan visi dalam menjaga iklim lingkungan lembaga agar tetap kondusif. Setali tiga uang, kemana arah lembaga berlabuh sangat ditentukan oleh siapa yang menggenggam kendalinya.

Keberadaan suatu lembaga tercermin dari sosok figur yang berada di garda terdepan. Tidak bisa dimungkuri pula bahwa sumber daya menusia yang beragam kadang-kadang akan meniscayakan konflik yang kadang membuat seorang pemimpin merasa terombang-ambing ketika sang nakhoda kehilangan arah dan tak tau kemana arah kapal akan melaju.

Situasi seperti ini cepat atau lambat akan membuat keberlangsungan lembaga bisa terancam. Kondisi tersebut kemudian menguji kematangan pemimpin. Dinamika ini pun mesti dijawab dengan fresh idea maupun visi-misi yang progresif. Sesekali, violet ruls juga diperlukan sebagai improvisasi untuk melakukan sesuatu yang berbeda dari yang sebelumnya. Demikian juga pikiran lateral bisa menghasilkan cara-cara baru dalam menciptakan serta menjalankan inovasi.

Dalam konteks ini, pengambilan keputusan berperan penting untuk mengantarkan go in progress lembaga. Kolaborasi akan mengakumulasi semua kekuatan tunggal menjadi kekuatan kolektif yang akan menjadi sebuah sumber keunggulan dan kekuatan sebuah lembaga. Etos kerja tersebut sebetulnya suatu bentuk penghargaan pemikiran dan memiliki nilai dasar dalam membangun hubungan trusted, optimalisasi potensi serta penyadaran untuk bersatu padu atau a behavioral shift. Pada akhirnya, strategi dan pola kepemimpinan yang bekerja dalam budaya yang kolaboratif akan membuat lembaga mengorganisir dirinya sendiri melalui interaksi dan kreativitas dalam perbedaan maupun keragaman kepentingan berproses. Kecerdasan pemimpin untuk menjalankan organisasi atas dasar otoritas bersama dalam manajemen dua arah dapat menciptakan lingkungan kerja yang produktif sekaligus menekan konflik – (Habis) raw�Y� �w

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*