UJI PETIK EFEK PUASA DENGAN INDIKATOR PERDAMAIAN.

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

Ketika kita hendak berjumpa dengan penghujung Ramadhan, sewajarnya kita bertanya, sudah berdampakkah efek puasa terhadap perilaku kita? Apakah puasa selama satu bulan lamanya, benar-benar telah mampu membangun empati dan menjadikan kita sosok muslim yang sesungguhnya? Muslim  yang sesungguhnya identik dengan muslim yang mampu memberi rasa aman kepada orang lain, baik dengan lisan, sikap, dan tindakannya. Dengan lain perkataan, sebagai muslim kita memiliki kewajiban untuk mewujudkan perdamaian dalam keseharian kita, baik dalam lingkup bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan beragama.

Pesan mulia tersebut telah diingatkan oleh As Sayid (2017) yang merangkai seuntai pesan indah, dimana pada dasarnya arti muslim dan hakikat persaudaraan merupakan curahan iman dan perasaan yang paling dalam di antara mereka. Sehingga, setiap muslim merasa hidup ini hanyalah untuk mereka dan karena mereka. Seakan-akan mereka adalah ranting dari pohon yang satu. Mereka tak ubahnya laksana satu jiwa dalam tubuh yang banyak.

Seorang muslim memiliki misi kemanusiaan yang agung, yaitu mewujudkan perdamaian. Tampak sepele memang tetapi tidaklah mudah. Kendatipun demikian, rangkaian ibadah yang dilakukan oleh seorang muslim pada akhirnya akan mengantarkannya pada sikap dan kebiasaan untuk senantiasa hidup damai-mulai dari diri, keluarga, umat, dan juga dalam ruang lingkup kehidupan berbangsa,  bernegara, dan juga beragama.

Bahwa misi untuk mewujudkan perdamaian itu haruslah dimulai dari diri sendiri, dalam arti bilamana seseorang mampu menghadirkan sikap damai dalam alam internalnya, maka ia tidak susah untuk menghadirkan  perdamaian dalam lingkungan luarnya -masyarakar, bangsa dan negara. Di antara cara mewujudkan perdamaian internal ini yaitu dengan tidak berlebihan menanggapi ujaran kebencian, dan bahkan sebaliknya, kita mampu menahan diri kemudian berusaha membagi kasih sayang kepada sesama. Al Fudhail bin Iyadh pernah mencontohkan lanskap pandangan muslim dengan saudaranya dengan wajah yang mendeskripsikan perasaan cinta dan kasih sayang, merupakan suatu ibadah.

Dengan begitu kita dapat menarik intisari bahwa puasa (shaum) menjadi satu di antara ibadah yang istimewa. Puasa menjadi rahasia antara kita dengan sang khalik. Selain itu, puasa juga menjadi olah rasa dan olah mental bagi setiap muslim untuk mencapai predikat “taqwa”. Dengan hanya berniat puasa, menahan makan dan minum dan juga tidak melaksanakan hal-hal yang membatalkan puasa, maka puasa kita sudah sah. Namun masalahnya adalah predikat sah saja tidak cukup. Lantaran dalam ajaran agama, tujuan sebetulnya dari puasa itu adalah agar kita mendapatkan limpahan pahala dari Allah Swt., maka niscaya hendaknya kita mampu menjaga puasa.

Dalam pada itu, orang yang sedang melaksanakan puasa, tidak diperbolehkan untuk melakukan ghibah, fitnah, provokasi, mengucapkan dan men-share ujaran kebencian, dan hal-hal lain yang merusak perdamaian, baik dalam level individu ataupun massa. Ketika sedang disakiti atau bahkan diganggu orang lain misalnya, orang yang berpuasa hendaknya menahan diri dengan tidak merespons ujaran yang senada. Hal ini perlu dicamkan lantaran muara puasa adalah membentuk hati menjadi damai, sekalipun bertebaran ujaran kebencian dan fitnah menerpa.

Dalam konteks ini, Rasulullah Saw. bersabda: “Puasa itu adalah perisai, jika salah seorang dari kalian sedang berpuasa, maka janganlah mengucapkan ucapan kotor, dan jangan pula bertindak bodoh. Jika ada seseorang yang mencelanya atau mengganggunya, hendaklah mengucapkan: sesungguhnya aku sedang berpuasa.” (HR. Bukhari)

Konklusinya adalah kita niscaya menahan diri untuk terciptanya perdamaian karena mengharap ridha-Nya, adalah salah satu inti utama dari puasa. Puasa hendaknya membuahkan keshalihan sosial, bukan hanya secara sosial atau virtual semata. Oleh karena itu, sekarang adalah momen yang tepat untuk menguji petik, apakah puasa kita sudah mampu membekaskan perdamaian di hati kita ? Apakah puasa mampu melembutkan hati, sikap, dan tutur kata kita ? Dan apakah puasa kita mampu menjadikan diri kita sebagai agen perdamaian (agen of peace) ?

Bilamana jawabannya: Sudah, maka kita patut berbahagia. Sebab, hati yang damai dan mendamaikan akan memberikan energi positif dan psikis yang terwujud dalam aktivitas yang produktif. Bahkan, walaupun kita belum mampu menjadi pribadi yang lebih damai dan mendamaikan, masih ada waktu bagi kita untuk merefleksi dan melakukan perbaikan diri. Hakikatnya, bahwa puasa merupakan “training kejiwaan” bagi kita. Sebab hanya dengan hati damai dan nafsu yang terkendali, kita akan mampu menyongsong kesucian, di hari kemenangan: di dunia hingga akhirat. “Semoga”. (*Penulis adalah staf Humas dan Protokol Setda Kabupaten  Lombok Utara) acebook�=P�

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*