class="entry-header mh-clearfix">

SASTRO A SYAFARUDDIN: LEBARAN TOPAT, ANALOGI MEMBELAH HATI.

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

Mayoritas masyarakat suku Sasak Lombok provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) merayakan lebaran Topat  (ketupat) setelah 7 hari pascaperayaan Idul Fitri. Bahkan lebaran Topat telah menjadi tradisi di masyarakat “Pulau Seribu Masjid” dengan aneka kegiatan, di antaranya ziarah makam khususnya ke makam-makam para wali yang berjasa menyebarkan Islam di Lombok. Biasanya usai merayakan lebaran Topat masyarakat setempat bersama sanak keluarga berbondong-bondong menuju tempat-tempat objek wisata.

Terlepas dari segala bentuk selebrasi tersebut, sebenarnya dalam tradisi lebaran Topat terkandung makna khusus-sebuah analogi pembersihan hati dari segala penyakit seperti iri, dengki, sirik, dan penyakit lainnya.

Dari aspek religiusitas, lebaran Topat mengandung makna di hari itu umat Muslim membelah hati dari segala sifat buruk yang bersemayam di dalam benaknya. Atau Belah Topat itu analogi membelah sebuah hati. Itulah konten pesan orang Sasak melakukan belah Topat di makam para wali.

Dalam kepercayaan masyarakat Sasak, Topat sebagai hidangan wajib tidak diperbolehkan dibuka dengan menarik bungkus ataupun janurnya tapi harus dibelah menggunakan pisau. Di samping itu, lebaran Topat bermakna wujud rasa syukur dengan melebarkan taubat. Konon, dalam tambo suku Sasak, di masa silam para wali yang melakukan syiar agama selalu membawa Topat sebagai bekal utama.

Dalam pada itu, lebaran Topat tidak hanya menjadi tradisi masyarakat di Lombok, tetapi di berbagai daerah di Indonesia pun merayakan lebaran Topat. Termasuk pula beberapa negara di kawasan Asia Tenggara seperti Brunei Darussalam dan Malaysia. Makna perayaan di berbagai tempat tersebut juga berbeda-beda sesuai dengan tradisi budaya setempat. Misalnya di Jawa, lebaran Topat menjadi simbol kelahiran kembali dalam arti melahirkan manusia baru yang harus menyucikan diri dengan saling memaafkan antarsesama muslim maupun keyakinan agama lain. Sedangkan di daerah Sulawesi, Sumatera, dan beberapa negara Asia Tenggara, Topat telah menjadi simbol kerendahan hidup. Bahwa melakoni hidup harusnya seperti pohon kelapa, meski diterjang angin tetaplah sulit tumbang. Pohon kelapa dijadikan perumpaan lantaran mempunyai banyak manfaat mulai dari batang, daun, buah, dan sabutnya. Hubungan kausalitasnya adalah pasca Syawal, umat Islam seyogiyanya harus mampu bermanfaat untuk orang banyak.

Sebangun dengan perkembangan zaman saat ini khususnya di Lombok, bahwa perayaan lebaran Topat juga dikaitkan dengan kegiatan pariwisata atau pelesir. Pada saat lebaran Topat warga berbondong-bondong menyerbu tempat-tempat wisata dengan tetap berprerilaku tidak boleh bertentangan dengan norma agama dan budaya yang hidup di tengah masyarakat.

Di NTB saat ini lebaran Topat telah dikemas semenarik mungkin untuk menarik minat wisatawan asing untuk berkunjung dan menjadi agenda tahunan di beberapa Kabupaten/Kota. Kita berharap perayaan tradisi lebaran Topat tetap dijaga dan dilestarikan seiring dinamiknya yang disertai norma agama, adat dan budaya. (Penulis Adalah: SASTRO A SYAFARUDDIN (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*