class="entry-header mh-clearfix">

Sastro A Syafaruddin: HOAKS DAN NIRNALAR PUBLIK.

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

Berita, adalah hasil konstruksi realitas dapat berupa informasi bohong yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya oleh asal penyebarnya atau hoaks. Permasalahan yang muncul  adalah banjirnya hoaks menjadi salah satu penyebab matinya nalar publik. Biasanya diikuti dengan  kemampuan literasi bermedia publik yang rendah, kemampuan memilah media dan memilih informasi kredibel yang minim dan tanpa adanya filter serta membuat kita tidak memiliki preferensi yang baik dalam membaca dan menyimpulkan realita yang berkembang. Inilah yang menyebabkan kritisnya nalar publik untuk berpikir kritis.

Hoaks menjadi salah satu pemicu seseorang untuk bersikap irasional. Hoaks bukanlah sesuatu yang bisa dianggap sepele, butuh keahlian dan penelitian yang mendalam untuk mengonstruksi sebuah pesan dalam hoaks, memetakan segmentasi dan target pasar, mengukur dampak dan menghitung benefit yang ditimbulkan. Pelakunya jelas bukanlah orang yang bodoh, hanya saja tak punya tanggung jawab moral demi kepentingan bisnis, politik, pribadi ataupun kepentingan tertentu lainnya.

Media sosial menjadi salah satu alat ‘ampuh’ yang berkontribusi besar untuk mendistribusikan dalam penyebaran bermacam-macam hoaks. Di era kebebasan publik seperti sekarang ini, setiap orang bisa berperan jamak: menjadi produsen, distributor, dan konsumen sekaligus-dalam bermedia sosial. Isi pesan yang terkandung dalam hoaks murni pesan subliminal yang menyasar demi membakar emosional pembaca. Dampak negatif yang timbul adalah pembaca dengan mudah menyimpulkan sesuatu tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu terhadap fakta dan asal usul  yang ada. Bisa dicontohkan misalnya hoaks tentang “masuknya tenaga kerja asing di Indonesiaā€¯.

Secara literal kita akan menangkap pesan akan ada tenaga kerja asing yang datang ke Indonesia, namun pesan subliminalnya bukanlah demikian. Ketika kita tidak memiliki filter yang mumpung  dalam menyaring dan menerima informasi maka kita akan menangkap pesan subliminal berita tersebut yaitu pemerintah tidak adil, takut kehilangan pekerjaan, pemerintah yang tidak peduli dengan rakyat. Akhirnya sebagian kita bereaksi berdasarkan emosional informasi yang keliru dan salah.

Bersikap Bijaksana

Fenomena post truth merupakan fakta yang tak bisa dihindarkan. Kita berada dalam ruang publik yang demikian dan nyaris tak bisa menghindar darinya. Lantas bagaimana harus bersikap sehingga kewarasan kita menetralisir impormasi dapat terjaga dengan baik. Kuncinya hanya pada perubahan prilaku. Terbiasakna Bijaksana memilih informasi dan memilah media yang kredibel, perbanyak membaca, tingkatkan kemampuan literasi, dan tingkatkan kemampuan berpikir sebelum ikut menyebarkan pesan hoaks

Berpikirlah untuk menguji kebenaran dari imoormasi yang kita dapati, bukan hanya untuk mengkonfirmasi kepercayaan yang kita miliki, luaskan pengetahuan dan wawasan, sehingga kita hidup dalam banyak perspektif dan tidak fanatik terhadap kebenaran yang kita ketahui, apalagi fanatik pada kebenaran pesan  semu yang didapatkan melalui hoaks. Semoga bermanfaat. 8

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*