SARJONO :TAKWA DAN KEMENANGAN GENERASI MUDA.

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al Baqarah 183).

Pesan utama ayat tersebut hendak menerangkan kepada kita semua bahwa ketakwaan adalah output dari puasa yang kita jalankan selama sebulan penuh di bulan Ramadan. Ketakwaan adalah tujuan utama dari ibadah berpuasa.

Menurut Nurcholish Madjid bahwa derajat ketakwaan ini akan tercapai apabila seseorang memiliki kesadaran yang tinggi atas sikap keberagamaannya. Pertama, kesadaran vertikal tentang hubungan dirinya dengan Allah SWT. Kedua, kesadaran horizontal yakni hubungan dirinya dengan sesama manusia. Kedua kesadaran tersebutlah yang mampu menghadirkan ketakwaan dalam diri seseorang.

Dalam konteks ini menarik untuk kita simak sikap kecenderungan beragama kelompok muda di NTB. Hari-hari ini kita tahu bahwa trend usia milenial dan generasi setelahnya terus meningkat. Jika dikalkulasi dalam angka, mereka berkisar pada 60-an persen dari total penduduk NTB. Itu artinya jumlah generasi muda lebih dari separuh total orang di daerah ini.

Di malam-malam pertama hingga sepuluh malam terakhir, sekitar 40 persen penghuni Masjid adalah generasi ini. Belum lagi kita melihat kegiatan-kegiatan yang mereka inisiasi yang secara kuantitas bisa dihadiri ratusan hingga ribuan orang.

Potensi besar generasi baru ini perlu terus dijaga spiritnya dan semakin ditingkatkan kepada kualitas dua kesadaran di atas. Kesadaran vertikal atau kesadaran ‘Ilahiah’ akan membentuk sikap yang optimis, visioner, dan sikap positif lainnya. Juga kesadaran horizontal atau kesadaran kemanusiaan akan membentuk sikap produktif, partisipatif, dan kolaboratif.

Berkat Allah SWT juga, selama beberapa tahun terakhir daerah kita terus mengalami peningkatan pembangunan. Insyaallah pada saatnya kita ketimban berkah kependudukan: bonus demografi, yaitu semakin dominannya jumlah angkatan kerja, dibanding dengan usia senja atau usia dini. Tanda-tanda ini telah mulai berdiaspora di daerah bermoto: bumi gora ini.

Jika kita menengok sejarah, bahwa bonus demografi hanya dialami sekali dalam sejarah sebuah daerah atau negara. Negara Jepang, Korea, dan Cina mengalami peningkatan pembangunan selama beberapa dekade terakhir, lantaran memanfaatkan bonus demografi yang lebih dulu mereka alami.

Daerah ini perlu bersyukur dengan potensi yang dimiiliki yang menunjukkan peluang mendapatkan berkah bonus demografi pada saatnya, dan memanfaatkannya dengan baik, melalui penanganan yang baik oleh berbagai pihak: terutama melalui kebijakan pemerintah daerah yang tepat. Di manapun hari ini, kita sedang menyaksikan tumbuhnya sebuah generasi baru yang berbeda. Ciri-cirinya secara umum: pendidikannya lebih tinggi, kesehatannya lebih baik, lapangan kerja tersedia lebih terbuka dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.

Namun begitu, momentum ini jangan membuat kita terlena, kemajuan perlu terus didorong oleh semua pihak agar cita-cita NTB “Gemilang” dengan indikator maju, adil, dan makmur dapat dicapai sesuai asa bersama.

Jika hal ini terjadi, maka kemenangan kita tidak sekedar berhenti pada kemenangan sesaat di momentum Idul Fitri ini saja. Kemenangan kita akan abadi, berdaya serbaguna, melenting jauh ke depan bersama generasi muda beserta segala potensi lainnya.

Akhirnya, derajat ketakwaan bisa tercapai jika ada kesadaran sikap keberagamaan. Selamat berhalal bi halal, tautan tasbih takbir tahmid, juga segala rupa tentang menu lebaran (ketupat, opor, dan kawan-kawannya).

Minal aidin nalfauzin nalmakbulin. Mohon maaf lahir dan batin.(*Penulis adalah Divisi Infokom PK DMI Lombok Utara) 5�*��dd

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*