class="entry-header mh-clearfix">

PENGUSIRAN PKL OLEH PIHAK MASJID AGUNG TAKALAR, DINILAI MELAMPAUI BATAS KEWENANGANNYA. MEREKA JUALAN DI LUAR HALAMAN MASJID, ADA APA…?.

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

PP. Takalar. Perseteruan antara Pedagang Kaki Lima (PKL) yang mangkal depan Masjid Agung Takalar, pada akhirnya menuai sorotan tajam dari berbagai pihak, lantaran lokasi para PKL menggelar lapaknya sudah di luar batas wilayah halaman Masjid, sehingga dinilai sudah melampaui dari batas kewenangannya. Sehingga kuat dugaan hal ini dilatar belakangi oleh persaingan bisnis oleh salah satu pengurus Yayasan dengan keberadaan PKL tersebut.

Menurut informasi yang berkembang sekait perseteruan tersebut. Bahwa pengurus yayasan sendiri banyak yang tidak sepakat dengan keputusan yang diambil oleh Ketua Yayasan Masjid Agung Takalar Syamsul Qamar Dg. Timung, yang terang-terangan mengusir para PKL yang berjualan dekat trotor depan Masjid Agung tersebut. Apalagi lokasi tersebut sudah termasuk area publik.

Yang sangat mengherankan. Setelah para PKL memindahkan tenda-tenda dagangannya ke depan pasar sentral Takalar (Kamis lalu). Dan kali ini Giliran pedagang yang hanya menggelar terpal seadanya pun mendapat perlakuan yang sama oleh pihak yayasan, yaitu diusir. Padahal para PKL tersebut hanya memohon seminggu sekali setiap hari Jumat saja. (Jumat: 20-05-2017).

“ Pengusiran ini yang sebenarnya sudah melampaui batas. Seharusnya bukan pihak Masjid Agung yang mengusir karena tempat ini sudah bukan halaman Masjid, tapi sudah masuk area publik. Yang berhak  adalah pemerintah atau dalam hal ini pihak Satpol PP, kalau memang tempat ini tidak bisa di pakai jualan walau untuk sementara atau beberapa jam saja. Jelas Tokoh masyarakat yang enggan di tulis jati dirinya.

“ Saya cuma merasa heran. Kenapa pihak yayasan begitu ngotot mengusir dan tidak membiarkan kita-kita ini untuk mencari reski disini. Padahal orang semua tahu bahwa ini sudah bukan halaman Masjid ?.” Ungkap Salam yang di iyakan oleh beberapa temannya yang merasa sangat kecewa dengan arogansi oknum pihak yayasan.

Olehnya itu dengan kejadian ini selayaknya pihak Yayasan Masjid Agung memikirkan kembali keputusannya, jangan sampai mengatas namakan yayasan, padahal pihak pengurus pun banyak yang tidak sepakat dengan keputusan ini. Yaitu memaksa para PKL meninggalkan depan halaman Masjid padahal itu sudah bukan merupakan batas kewenangannnya. Baiknya pihak yayasan fokuslah mengurusi ummat. Dan mungkin ada baiknya bercermin kepada pengelola Yayasan Almarkas Al Islami di Makassar yang begitu ramah dengan keradaan PKL di sana. Bukankah mengayomi yang kecil, untuk meraih reski halalnya adalah bahagian dari ibadah ?.

Atau selayaknya pihak yayasan lebih mengutamakan hal pengamanan Masjid, karena menurut cacatan sudah beberapa kendaraan roda dua yang di curi di halaman Masjid ketika para tamu singgah untuk sekadar melaksanakan Shalat. Termasuk pencurian sandal dan sepatu sudah tidak asing lagi bagi pengunjung di masjid Kebanggaan masyarakat Takalar tersebut. Bukan bahkan mengusir pedagang-pedagang kecil yang hanya beralaskan terpal untuk mengais reskinya dari masyarakat yang akan mengikuti Shalat Jumat, itu pun paling lama satu Jam sebelum dan setelah Jum’atan.(***)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*