class="entry-header mh-clearfix">

MENGHINDARI PRAKTIK POLITIK ALA DEMAGOG.Oleh: SARJONO {Mantan Ketua IPMLU Yogyakarta]

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

PP. Opini.Pada bulan November mendatang, seantero wilayah Lombok Utara bakal merayakan pesta demokrasi desa. Ada sebanyak 26 desa akan menggelar pemilihan kepala desa secara bersamaan atau pilkades serentak untuk memilih pimpinan pucuk desa melalui pesta rakyat enam tahunan.

Tentunya, semua atensi ndan ekspektasi masyarakat di dua puluh enam desa akan tertuju pada momentum demokrasi enam tahunan tersebut. Tak ada ekspektasi masyarakat yang terlalu berlebihan, tapi masyarakat tentu berharap agar para bakal mcalon kepala desa dapat menunjukkan edukasi politik yang baik dan benar kepada rakyat. Sebab, rakyat adalah ‘tamu agung’ bahkan pemilik sejati pesta tersebut.

Dikatakan ‘tamu agung, dikarenakan rakyat akan dijamu dengan berbagai suguhan. Peran bakal calon kepala desa bakal menyuguhkan beragam menu (intrik) politik. Rakyat dikatakan sebagai pemilik sejati ‘pesta’, lantaran di alam demokrasi, rakyat lakon utama subjek dari politik itu sendiri.

Pesta demokrasi ini kemudian mendefragmen memori kita pada seruan Presiden ke-16 Amerika, Abraham Lincoln, dalam pidato Gettysburg-nya mengungkapkan, bahwa demokrasi adalah pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam kaitan itulah, rakyat selalu dilibatkan dalam setiap hajatan politik praktis. Tanpa terkecuali dalam praktiknya, rakyat selalu diberi menu politik: dipersuasi dengan janji muluk nan manis, ‘politik uang’, balas jasa keletihan dan lainnya.

Banyak trik dilakukan dengan ‘polesan kata-kata manja nan manis’, terdengar indah nan syahdu hingga menembus batin rakyat, bahkan membius alam bawah sadar rakyat. Misalnya lagu lama kerap direviu, “bila terpilih nanti, saya akan bekerja sekuat tenaga untuk mensejahterakan warga”, “sudah saatnya masyarakat miskin diberi jaminan pendidikan, kesehatan dan sosial gratis”, “meningkatkan pendapatan asli desa kita”, “memeratakan penataan lingkungan dengan infrastruktur yang memadai”. Dan, masih banyak kalimat sejenis lainnnya. Semua retorika ini disampaikan agar dapat menyulut emosi dengan harapan bisa menarik simpati dan empati warga. Namun, realitas empiris tak selamanya sejalan dengan apa yang disuguhkan atau dipaparkan kepada masyarakat. Di titik inilah, hemat penulis, secara terang benderang para bakal calon kepala desa memainkan lakon ‘demagog’.

Politik ‘Demagogi’

Asal muasal kata ‘demagogi’ berasal dari bahasa Yunani Kuno ‘demagogia’, terdiri dari dua kata: ‘demos’ berarti rakyat dan ‘ago’ berarti pemimpin. Jadi, ‘demagogi’ adalah ‘pemimpin rakyat’, atau demagog dalam bentuk kata ganti orang. Sejak periode itu, demagogi telah menjadi kata penghinaan ( derogatory ) bagi pemimpin yang menebar prasangka (hoaks, kebencian), tipu daya muslihat dan hasutan.

Di samping itu, Kasijanto Sastrodinomo dalam tulisannya “Demagogi Lagi” di Harian Tempo 28 Juli 2014, mengutip terminologi demagogi dalam Kamus Politik suntingan Roger Scruton (2007) sebagai ‘penggerak rakyat’, yakni seorang yang mampu mendapatkan kekuasaan (politik) melalui retorika dan propaganda dengan mengorbankan perasaan para pendengarnya.

Pada proses sosialisasi atau kampanye misalnya, seorang demagog berupaya maksimal menampilkan kualitas kepemimpinan tertentu. Paling tidak ia harus kelihatan meyakinkan dan memahami sepenuhnya kebenaran tentang apa yang diucapkan, menguasai diri, pendengar dan tujuannya. Seorang demagog kerap kali mengesankan diri tulus dan setia pada misinya sebagai juru penyelamat (savior) pengikutnya.

Dalam pada itu, filsuf ternama, Aristoteles juga mengaitkan terminologi demagogi dengan ‘tradisi retorika sofistik’ yang dikritiknya untuk meraih kemenangan tapi mengabaikan kebenaran. Oleh karena itulah, rakyat perlu mewaspadai adanya praktik politik demagogi yang dimainkan para balon kepala desa dalam momentum Pilkades yang akan dihelat serentak nanti.

Dalam pada itu, tidaklah berlebihan jikalau penulis berpendapat, praktik demagog masih kerap mewarnai pesta demokrasi di seantero daerah ini. Bisa dilihat dari aktivitas kampanye yang acap kali dibarengi dengan ‘uang’, menggelar pertandingan tertentu untuk menarik simpati dan empati warga, serta warga diberi bingkisan atau uang dikala pertemuan pun akhirnya tak terhindarkan. Semuanya dibungkus dengan ucapan yang manis pelunak hati warga, membuat warga seolah-olah ‘jatuh cinta’ lantaran ‘ada uang abang disayang’.

Apa yang kemudian terjadi, praktik politik para demagog pun berjalan mulus, sering kali pula menampilkan praktik ‘HMSD’ (habis manis sepah dibuang). Faktum ini bisa terlihat kala momentum Pilkades usai. Pada titik ini, rakyat yang awalnya sebagai ‘tamu agung di pesta sendiri’, disulap tak ubahnya jadi ‘tamu yang tak diundang’. Padahal, esensi demokrasi sejatinya adalah melibatkan rakyat mengalami proses demokrasi yang digalakkan pemerintah.

Rakyat tak sekedar menjadi penonton selama enam tahun berjalan. Dan, sebetulnya rakyat wajib dan mutlak mengimpresikan (mengalami dan merasakan) proses dan dampak pembangunan yang digalakkan pemerintah desa. Oleh karena itu, rakyat perlu mewaspadai adanya praktik politik demagogi di momentum Pilkades nanti. Kewaspadaan itu harus difokuskan pada figur pemimpin yang memainkan praktik politik demagogi. Dan, rakyat patut menilai figur yang steril dari praktik-praktik demagogi.

Dalam tataran ini, penilaian rakyat akan tertuju pada kehadiran figur yang tidak sekedar menunjukkan kualitas ‘retorika’ semata. Pasalnya, hal itu belumlah berarti apa-apa, bila tanpa sejumlah bukti berupa track record yang mumpuni: jujur, adil dan bersih dari praktik KKN. Rakyat pun butuh figur yang mampu menghargai kehidupan  bumi Tioq Tata Tunaq  yang plural (suku, agama, ras, antargolongan), termasuk pula keberagaman aspirasi rakyat. Ini penting diatensi agar pemimpin yang bakal memimpin di dua puluh enam desa nanti dapat membawa masyarakat yang telah menyematkan tali mandatnya menuju ke arah yang lebih baik: kemaslahatan masyarakat desa pada masa mendatang. Semoga.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*