class="entry-header mh-clearfix">

MAKNA DI BALIK IDUL KURBAN Oleh: Sarjono (Pengurus DMI Kab. Lombok Utara)

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

PP. Opini. IDUL KURBAN, pada prinsipnya adalah momentum untuk menyempurnakan keimanan dan ketakwaan dari karakter buruk dalam diri seorang insan. Sebab ibadah dalam setiap agama selalu memiliki dimensi ganda, yakni vertikal dan horizontal. Shalat dan puasa, misalnya, bukan sekadar cara pendekatan diri kita kepada Allah SWT, melainkan juga pendekatan diri dengan sesama, bahkan dengan alam semesta sekalipun. Beribadah juga tidak sekadar menggugurkan kewajiban, yang cuma berhenti pada tataran pemenuhan syarat dan rukunnya, tetapi juga harus berbuah kesalehan sosial, akhlak mulia, dan integritas moral.

Mengilas balik sisi historisnya, ritual shalat Idul Adha dengan menghadap kiblat merupakan ibadah vertikal dan pelaksanaannya secara berjamaah. Sementara penyembelihan hewan kurban berikut pembagian dagingnya kepada yang berhak adalah bentuk ibadah sosial horizontal kepada sesama. Kedua dimensi ibadah ini mesti bermuara kepada ketakwaan sosial, keteladanan moral, dan kedermawanan sosial.

Dari sisi vertikal, kita mesti memahami secara seksama latarbelakang Nabi Ibrahim AS mengurbankan putranya, Ismail, bukan menyembelih hewan kurban. Kita juga perlu memahami lebih substantif perintah penyembelihan Ismail melalui mimpi yang dilakukan di Mina. Padahal kala itu, Ibrahim sedang senang-senangnya menikmati tahap perkembangan putranya, Ismail.

Kemudian jika dikaji dari sisi horizontal, faktum Ibrahim mengajak berdialog dan berdiskusi dengan Ismail terkait soal perintah Allah untuk menyembelih dirinya sebagai kurban. Ismail pun terlihat begitu tegar dan sabar dalam menerima ujian iman, bahkan tidak dianggap sebagai suatu persoalan apapun olehnya. Sungguh suatu keteguhan iman pada taraf tiada tara. 

Para alim ulama berpendapat bahwa drama penyembelihan Ismail dalam prosesnya berlangsung melelahkan sehingga harus berpindah tempat sampai tiga kali dan Ibrahim pun harus melempari setan berkali-kali. Dan, jawaban terhadap pertanyaan itu sebetulnya sungguh menarik jika dibedah dari perspektif teologi pembebasan berbasis tauhid.

Merujuk pada dimensi di atas, hakekat dari Idul Kurban, paling tidak ada dua hal penting pelajaran bagi kita umat Muslim. Pertama, pengorbanan yang telah dicontohkan Nabi Ibrahim adalah pengorbanan pribadi, pengorbanan keluarga, dan lainnya. Dan, kita pun dituntut untuk siap berkorban demi kepentingan agama dan kepentingan manusia.

Suatu kepatutan untuk mendapatkan ridha Allah SWT jika diperlukan bukti nyata pengorbanan dari tiap Muslim. Mendapatkan keridhaan Allah SWT. Suatu kemestian bagi seorang Muslim guna mendalami terkait pengorbanan yang telah dilakukan Nabi Ibrahim secara tulus ikhlas dilandasi oleh nilai keimanan dengan taraf tinggi.

Kedua, doa Nabi Ibrahim kepada Allah SWT agar negerinya senantiasa berada dalam keadaan aman. Termasuk kita di daerah ini untuk mempersiapkan agar diri kita dan daerah kita menjadi aman. Aman dari petaka sosial, terlebih lagi aman dari petaka bencana alam.

Substansi “aman” terkait erat dengan iman, lantaran iman itu menimbulkan rasa aman. Kita mestinya sanggup memberikan keamanan terhadap orang-orang dan masyarakat di sekitar kita. Bahkan orang mukmin dituntut sedia memberikan keamanan kepada yang lain, dan harus sanggup pula mencintai yang lain seperti mencintai diri sendiri.

Dengan demikian, esensi pesan dari idul Kurban dan penyembelihan hewan kurban itu adalah strategi sang khalik dalam mencerdaskan, mencerahkan, dan membebaskan umat manusia dari segala tirani penjajahan hati dan pikiran. Dan, secara lahiriah, penjajahan dalam berbagai bentuk dan aspeknya oleh manusia terhadap sesamanya.

Idul kurban secara sebstansi merupakan manifestasi nyata perjuangan melawan setan yang mendisorientasi ketulusan cinta kita kepada Allah SWT, dengan merayakan kemerdekaan hati dan pikiran dari karakter buruk seperti serakah, kikir, amarah dengan cara menumbuhkan etos berbagi dan berempati kepada sesama dengan landasi tuah filantropi.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*