class="entry-header mh-clearfix">

KEPEMIMPINAN PROGRESIF (1) Oleh: Sastro A. Syafaruddin, SH

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

PP. Opini. PROGRESIF, kata yang sebetulnya tidak hanya digunakan dalam ranah sosial, politik, hukum dan lainnya tetapi juga digunakan dalam ranah kepemimpinan. Entitas-entitas ini hampir tidak punya implikasi khusus. Namun tentunya hal itu harus kita telaah secara seksama terkait konsep progresif dalam koridor kepemimpinan suatu lembaga, misalnya pemerintahan.

Tulisan ini membidik pentingnya terminologi progresif dalam ranah kepemimpinan, atau menyelami lebih jauh makna dan konsep dari kepemimpinan yang progresif. Diskursus ini penulis anggap penting lantaran saat ini realita kepemimpinan di sebagian besar lembaga publik kurang relevantif dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Fenomena ini mesti disadari bersama, bahwa kita memang minus para pemimpin yang berkualitas, berintegritas, akuntabel, kapabel dan berkharisma sesuai dengan kriteria dan tuntutan zaman. Jika kondisi ini tidak direspons cepat oleh semua pihak, maka dapat berimplikasi pada masa depan dinamika lembaga pemerintahan bisa distorsif, salah arah, gampang terombang-ambing, bergerak lamban, berjalan di tempat dan bahkan kehilangan identitas dan roh sebagai sarana layanan publik. Oleh karena itu, sudah saatnya kita fokus menggodok pemimpin di lembaga pemerintahan yang dapat merespons tuntutan dinamika dan biduk kepemerintahan serta multiplikasi kepemimpinan.

Secara umum, pemimpin didefinisikan sebagai orang yang mampu memimpin, menuntun, memotivasi, menginspirasi dan menggerakkan orang lain untuk mewujudkan sebuah tujuan atau sasaran, misi dan visi lembaga tempat seseorang memimpin. Ia juga mesti memiliki wawasan yang luas, baik pengetahuan filosofis, historis, sosial budaya, politik, manajemen dan saintis. Pemimpin mesti lebih cerdas, lebih bijak dan lebih unggul dari orang yang dipimpinnya. Pemimpin, dalam kaitan ini, harus betul-betul mampu menjadi otak organisasi, pemikir strategis, penggagas ide-ide atau program-program penting bagi sebuah kemajuan organisasi. Pun, pemimpin juga seorang manajer, pelopor, pengembang dan pembangun organisasi yang berorientasi kepada pencapaian tujuan atau goal oriented leader.

Di lembaga pemerintahahan saat ini kita memang sedang membutuhkan sosok pemimpin yang bisa menegakkan nilai-nilai moral dan etika kepemimpinan. Kita membutuhkan pemimpin yang mampu meluruskan keadaan dan menjaga tali amanah yang dimandatkan padanya. Kita pun membutuhkan pemimpin yang siap melakukan reformasi birokrasi total serta transformasi sosial dalam segala bidang pemerintahan yang strategis dan juga dapat menoreh prestasi gemilang atas dasar perkhidmatan tulus dan ikhtiar yang nyata.

Kepemimpinan progresif menjadi alternatif dari model kepemimpinan yang diharapkan mampu memangku amanah yang dimandatkan padanya. Pemimpin yang bersedia dengan ikhlas mewakafkan sebagian hidupnya untuk melakukan perubahan terhadap instansi yang tengah dipangkunya. Kepemimpinan progresif diharapkan menjadi modeling leader yang dapat membawa sebuah instansi hendaknya mampu mengikuti ritme perkembangan zaman secara fleksibel dan adaptable, mampu menjawab tantangan zaman, serta yang terpenting dapat melayani masyarakat dengan menyandarkan diri pada konsep norma dan moralitas. Fleksibel dan adaptabel terhadap perkembangan zaman bukan berarti setali tiga uang melupakan begitu saja identitas yang dimiliki, justru makin mengafirmasi bahkan mungkin semakin meneguhkan identitas yang ada.

Proyeksi lain dari pemimpin progresif adalah bersemangat juang tinggi, berhati baja, tidak pernah patah arang, tidak takut intimidasi serta bertindak sesuai dengan norma dan etiket yang inhern dalam dirinya. Di samping itu juga, pemimpin yang progresif harus bersedia menjadi orang yang rendah hati, taktis, tidak congkak, tidak egois, pelayan bagi masyarakat, berjiwa pendobrak serta tidak pula membangun status quo pribadi, tetapi lebih mengatensi kepentingan dan problem masyarakat, bangsa, dan negara.

Pemimpin progresif berjiwa visioner dan metamorfoser. Visioner di sini identik dengan kepemilikan visi, arah organisasi, memiliki gagasan strategis, dan bahkan berani membayar mahal untuk mewujudkan visinya. Ia juga berjiwa pembelajar, mau mengembangkan potensi diri secara kontinyu, serta bisa mengembangkan atau memajukan organisasi. Sementara metamorfoser bertalian dengan kemampuan seorang pemimpin melakukan transformasi atau perubahan besar dalam organisasi, lingkungan, masyarakat dan bangsa.

Eksistensi kepemimpinan dan organisasi ditentukan oleh para pemimpinnya. Maju mundurnya organisasi pada endingnya bermuara pada ketergantungan kepada pemimpinnya. Jikalau pemimpin sebuah organisasi atau lembaga pemerintahan memang berkualitas, akademis dan finansialis, organisasi bersangkutan bisa cepat maju dan bertumbuhkembang. Sebaliknya, jikalau pemimpin organisasi itu terbukti tidak berkualitas, maka bisa dipastikan manajerial dan personalianya akan mengalami kemunduran, stagnansi, degradasi dan bahkan krisis kepercayaan.

Terlebih di era milenial saat ini, kita sedang berpacu dengan waktu. Tantangan-tantangan yang sedang dihadapi oleh organisasi pemerintahan kian kompleks dan berat. Problema utama yang sebenarnya lebih dikhawatirkan bukan pada faktor eksternal organisasi, tetapi pada faktor internal organisasi itu sendiri. Organisasi pemerintahan saat ini kurang solid dan kurang bersinergi. Hal ini salah satunya disebabkan faktor pemimpin yang kurang visioner, kurang bekerja keras, lebih suka beretorika daripada berbuat, kurang terampil memimpin, kurang pandai memanajerial dan mengeksplorasi potensi SDM yang sebetulnya besar dan potensial produktif. (Bersambung)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*