class="entry-header mh-clearfix">

KEPEMIMPINAN PROFESIONAL (2) Oleh: Sastro A. Syafaruddin, SH.

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

PP. Opini. Secara normatif, kepemimpinan profesional mengedepankan “etika”. Norma ini menjadi kunci dari keberdinamikaan proses profesionalitas pemimpin dalam memimpin. Mengapa ia menjadi esensial dari perjalanan pola kepemimpinan profesional. Dapat dicontohkan, ketika suatu keputusan diambil sekelebat petir misalnya, leadership judgement tidak berhenti di dalam kompetensi hanya pada konteks pengambilan keputusan semata, namun juga penting mengatensi apakah sudah berada alam tingkat kebenaran etis dari lazimnya sebuah keputusan.

Etika kemudian lebih berfungsi sebagai pembimbing moralitas yang mengacu pada penghargaan yang tinggi terhadap dimensi kemanusiaan. Etika menjaga nilai keharmonisan dalam hidup, baik manusia maupun organisasi, dikarenakan etika membangun dan menguatkan nilai keadilan, terutama dalam berkompetisi dan beraliansi. Etika bersifat imperatif, atau menjadi kewajiban, bagi setiap anggota komunitas di mana etika itu dibuat. Tujuan keberadaan etika sendiri untuk membangun manusia seutuhnya dalam koridor keberadaan umat manusia.

Jika seseorang ingin menjadi pemimpin yang profesional, alangkah baiknya ia mempunyai salah satu kriteria pemimpin. Organisasi yang profesional bisa dilihat dari organisasi bersangkutan dipimpin oleh pemimpin profesional yang memahami praktik sampai ke detail, meskipun dalam prakteknya tidak mesti melakukan hal-hal sampai detail. Kepemimpinan profesional perlu memahami segi-segi legal dalam kegiatan kerja sehari-hari untuk pelaksanaan tugas kepemimpinannya.

Kepemimpinan profesional yang unggul harus memiliki tiga rangkaian pohon faktor kepemimpinan, yaitu Visi, Nilai, dan Tegas dan Berani mengambil keputusan. Sebagai pemimpin, tuntutan pertama yang harus dimilikinya terkait visi ke mana sebuah organisasi akan dibawa dan bagaimana strategi dan implementasinya.

Visi mencerminkan kedalaman dan keluasan (wawasan) pemahaman yang memungkinkan untuk mendeteksi dan membentangkan pola-pola maupun kecenderungan-kecenderungan di masa depan yang membimbing pemimpin untuk membawa suatu organisasi memasuki masa depan. Visi menjadi roh sebuah organisasi. Tanpa visi organisasi bahkan manusia sekalipun akan lenyap.

Kemudian nilai seorang pemimpin akan menentukan apakah ia dapat menjadi pemimpin yang efektif atau tidak.  Sesungguhnya ada dua jenis nilai pemimpin dalam kepemimpinannya, yaitu pemimpin yang berorientasi pada diri sendiri dan pemimpin yang berorientasi pada organisasi.

Ketegasan dan keberanian mengambil keputusan adalah inti dari kepemimpinan. Setiap keputusan pasti mengandung kesalahan di dalamnya. Hanya Tuhan semata yang tidak pernah salah dalam membuat keputusan. Pemimpin adalah manusia, dan karena itu, mesti menyadari apa yang diputuskan ada unsur benar dan ada pula unsur salahnya. Sebetulnya, tantangan kepemimpinan bagi para pemimpin di masa depan bagaimana memetamorfosa dirinya dari corak kepemimpinan birokratif menjadi kepemimpinan transformatif.

Kepemimpinan birokratif identik dengan kepemimpinan yang menjadikan aturan atau prosedur sebagai tujuan yang harus dicapai. Kepemimpinan transformatif lebih mementingkan revitalisasi follower dan organisasinya secara menyeluruh ketimbang memberikan instruksi-intruksi yang bersifat top down. Atau pemimpin transformatif lebih memposisikan diri mereka sebagai mentor yang bersedia menampung aspirasi para bawahannya. Atau pemimpin yang transformatif lebih menekankan pada bagaimana melakukan revitalisasi institusi level organisasinya dengan menggunakan aturan dan prosedur sebagai wahana, bukan tujuan.

Penting profesionalisme kepemimpinan dikarenakan beberapa argumentasi. Pertama, profesionalisme memberikan jaminan perlindungan kepada kesejahteraan masyarakat umum. Kedua, profesionalisme pemimpin bertalian erat dengan suatu cara untuk memperbaiki kepemimpinan yang selama ini dianggap sebagian masyarakat kurang bagus. Ketiga, profesionalisme memberikan kemungkinan adanya perbaikan dan pengembangan diri yang memungkinkan seorang pemimpin dapat memberikan pelayanan sebaik mungkin dan memaksimalkan kompetensinya. (Bersambung….) d

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*