class="entry-header mh-clearfix">

KEPEMIMPINAN PROFESIONAL (1) Oleh: Sastro A. Syafaruddin, SH

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

PP. Opini. PEMIMPIN, ada yang mengidentikkan dengan lakon dalam sistem tertentu, karena itu seseorang dalam peran formal belum tentu memiliki ketrampilan kepemimpinan dan belum tentu pula mampu memimpin.

Apalagi menyikapi tantangan globalisasi dewasa ini yang ditandai dengan adanya kompetisi global yang sangat ketat dan tajam, perlu penyesuaian polarisasi dalam memimpin dengan merevitalisasi gaya kepemimpinan. Revitalisasi termasuk pula dalam hal perubahan paradigma kepemimpinan, terutama dalam hal pola relasi antara atasan dan bawahan, yang kemungkinan semula bersifat hierarkis-komando menuju ke arah kemitraan kolektif.

Pemaksaan kehendak dan pragmatisasi tidak asing lagi kita temukan dalam wajah kepemimpinan di banyak lembaga atau organisasi, fenomena realitas atas sikap dan perilaku yang acap kali mewarnai kepemimpinan beralur KBH (komando-birokratik-hierarkis), yang pada akhirnya fenomena tersebut justru berakibat fatal lantaran keterbelengguan sikap inovatif dan kreatif bawahan. Dalam pelaksanaan tugas dan kewajiban misalnya, mereka cenderung bersikap apriori dan bertindak hanya atas dasar perintah sang pimpinan. Efek domino lanjutan sulit dicapai kinerja yang unggul dan berdaya lenting.

Dengan model kepemimpinan demikian, maka diharapkan memotivasi bawahan dan seluruh entitas organisasi dapat memberdayakan diri lalu membentuk rasa tanggung jawab atas tugas-tugas yang diemban. Loyalisme kepatuhan tidak lagi didasarkan pada kontrol eksternal organisasi, namun justru berkembang dari lubuk sanubari individu disertai dengan pertimbangan yang rasional. Perlu restorasi pola untuk mendukung sirkulasi dinamika kepemimpinan. Diperlukan tawaran formula yang dapat mengakomodir segenap aspirasi dan kepentingan dalam organisasi. Kepemimpinan profesional menjadi opsi pola alternatif model kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan pada abad dua puluh satu ini.

Suatu kelaziman kehidupan manusia, empowering dimafhumi sebagai proses pemerdekaan diri, dimana setiap individu dipandang sebagai sosok manusia yang memiliki kekuatan cipta, rasa dan karsa. Jika tiga aspek kekuatan intern manusia ini benar-benar diposisikan agar dapat  berkembang semestinya dalam suatu organisasi, maka hal ini akan menjadi kekuatan yang luar biasa bagi kemajuan organisasi. Oleh sebab itu, partisipasi dan keterlibatan aktif individu dalam setiap pengambilan keputusan memiliki arti penting bagi pertumbuhan organisasi. Dengan keterlibatan mereka dalam pengambilan keputusan akan terbentuk rasa tanggung jawab bersama dalam mengimplementasikan setiap keputusan yang diambil.

Pandangan diatas mengindikasikan upaya pemberdayaan bukanlah hal yang sederhana, melainkan di dalamnya butuh kerja keras dan kesungguhan dari pemimpin agar anggotanya tumbuh dan berkembang adi individu yang berdaya. Jikalau saja seorang pemimpin sudah mampu memberdayakan tiap anggotanya maka di sana akan tumbuh dinamika organisasi yang diwarnai dengan pemikiran kreatif dan inovatif dari setiap anggota. Mereka dapat mengekspresikan dan mengaktualisasikan dirinya secara leluasa tanpa hambatan sosio-psikologis yang membelenggunya. Semua akan bekerja disertai rasa tanggungjawab yang profesional.

Dalam pada itu, untuk menatap masa depan tidak cukup bagi kita hanya untuk mengembangkan kemampuan dan pakar dalam ilmu yang diselancari, harapan terbesar jika salah satu dari kita menjadi pengganti pemimpin-pemimpin daerah ini, semua  kaum muda siap dan tanpa ragu untuk menggantikan serta memberikan ide-ide dan gagasan untuk membangun daerah tercinta ini. Kini, tengah ditunggu pahlawan-pahlawan muda yang muncul, bukan hal yang mustahil jika kita dapat menjadi seorang pahlawan. Dalam buku Mencari Pahlawan Indonesia, Anis Mata mendeskripsikan: “Pahlawan bukanlah orang suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat untuk kemudian kembali lagi ke langit. Pahlawan adalah orang biasa yang melakukan pekerjaan-pekerjaan besar, dalam sunyi yang panjang, sampai waktu mereka habis. Mereka tidak harus dicatat dalam buku sejarah. Atau dimakamkan di taman makam pahlawan. Mereka juga melakukan kesalahan dan dosa. Mereka bukan malaikat. Mereka hanya manusia biasa berusaha memaksimalkan seluruh kemampuannya untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekelilingnya.

Kita butuh orang-otang yang profesional untuk mengabdi dan bekerja menjalankan profesi sesuai dengan bidangnya. (Bersambung) ‘�

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*