class="entry-header mh-clearfix">

HUMAS DAN KEMAMPUAN “PUBLIC SPEAKING” :Oleh: Sarjono, S.I.Kom

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

PP. Opini. Dewasa ini, salah satu peran praktisi humas pemerintah (daerah) dalam melaksanakan tugasnya adalah  mengomunikasikan segala bentuk informasi berkaitan dengan aktivitas penyelenggaraan pemerintahan kepada publik. Nyaris humas menjadi wajah dari organisasi pemerintahan. Oleh karenanya, seorang praktisi humas harus memahami secara detail seluk beluk dan segala macam informasi yang terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan. Selain itu, humas menjadi gawang yang dapat menentukan citra dan reputasi organisasi pemerintahan yang dapat tercermin dari tampilan dan tata bahasa yang teratur.

Dalam konteks ini, praktisi humas harus mampu menciptakan poin positif organisasi supaya dapat meningkatkan “image” atau citra positif pemerintah di mata publik. Bagian kehumasan selalu terkait dengan dunia luar dan lebih banyak menghabiskan kegiatan di luar ruangan atau di lapangan. Bertugas memberikan pemahaman dengan cara mengedukasi khalayak, memperkenalkan kebijakan, program maupun kegiatan pemerintah. Titik bidiknya fokus pada upaya menarik sekaligus menyedot atensi dan minat publik sehingga dapat menghasilkan output banyak kalangan mendukung roda pemerintahan dapat berlangsung dengan dinamis, dan relevan dengan visi misi dan kebijakan pimpinan daerah.

Dalam konteks komunikasi terapan, ketika mengomunikasikan segala jenis informasi mengenai siklus pemerintahan kepada publik, praktisi humas pada dasarnya sedang melakukan aktivitas public speaking. Public speaking mengkaji ilmu atau seni berbicara untuk menyampaikan sesuatu hal di hadapan orang dengan tujuan tertentu. Public speaking berkaitan dengan teknik atau kiat berbicara yang harus dilatih setahap demi setahap dan disampaikan dengan semenarik mungkin.

Seorang “public speaker” yang hebat rata-rata mampu memukau bahkan mempengaruhi massa. Kita bisa melihat bagaimana para orator ulung yang suka tampil pada acara-acara kolosal atau pun tampil di TV. Mereka terbukti berhasil “menghipnotis”, mempengaruhi, dan menggiring audiens untuk melakukan apa yang disampaikannya. Anggukan kepala tanda paham dan kagum diekspesikan oleh mereka, dan applause pun diberikan sebagai bentuk apresiasi kepada sang orator. 

Seorang orator, marketer, dan presenter juga rata-rata perlu memiliki daya diksi dan kemampuan public speaking yang baik lantaran pekerjaan mereka pada prinsipnya adalah berbicara dengan tujuan untuk mempengaruhi, menggiring, dan bahkan membangun opini publik sehingga informasi yang disampaikannya kredibel. Begitu pun dengan praktisi humas di instansi pemerintahan daerah.  

Setidaknya ada dua kompetensi utama yang perlu dimiliki oleh seorang praktisi humas instansi pemerintah daerah, yaitu kompetensi komunikatif dan kompetensi intelektualitas. Pertama, kompetensi komunikatif. Instansi pemerintah penting memiliki praktisi humas yang dikenal luas oleh masyarakat, berpenampilan menarik, terbiasa muncul di ruang publik, dan juga mumpuni dalam public speaking dan media relations. Kedua, kompetensi intelektualitas. Kompetensi komunikatif harus diimbangi dengan kemampuan intelektual yang memadai. Praktisi humas di dalam organisasi pemerintahan laiknya pimpinan daerah, memang tidak mungkin menguasai banyak persoalan. Sehingga keterbatasan tersebut membuatnya perlu memiliki kapasitas yang mumpuni dari sisi intelektualitas. Semakin tinggi intelektualitasnya maka semakin tajam analisisnya terhadap suatu permasalahan.  Juga diperlukan pengalaman yang banyak guna melengkapi kompetensi intelektual  sehingga wawasannya luas dan berbobot.

Ada empat hal yang perlu diperhatikan oleh praktisi humas pemerintah dalam kedudukannya sebagai public speaker yaitu materi, metode, media, dan audiens. Sebagai pembicara, tentu seorang praktisi humas harus menguasai materi terkait pelbagai hal dan informasi yang hendak disampaikan kepada stakeholders terkait. Berkaitan dengan hal ini, Abraham Lincoln, Presiden AS periode 1861-1865 dengan lugas mengingatkan bahwa “Mereka yang naik tanpa kelelahan, akan turun tanpa kehormatan”. Hal ini menunjukkan bahwa seorang public speaker harus menguasai materi yang akan disampaikannya.

Publik sebagai audiens akan merasakan dan juga mampu menilai mana praktisi humas yang menguasai materi dan mana pula yang kurang menguasai materi yang disampaikan. Praktisi humas yang betul-betul menguasai bahan informasi tentu akan fasih dan lancar menyampaikan informasi walaupun tanpa melihat teks atau bahan tayang. Dampaknya, audiens dapat menikmati informasi, bahkan terkadang mereka tak merasakan waktu habis.

Berbeda halnya dengan praktisi humas yang kurang menguasai materi hampir pasti terlihat canggung, kurang nyaman, penyampaiannya tersendat-sendat dan terpotong dengan kata “ee…” yang agak panjang, ketergantungan terhadap teks atau bahan tayang, kurang percaya diri, raut muka dan bahasa tubuhnya kurang meyakinkan, dan terkadang tidak terasa pula keringat dingin mengucur dari tubuhnya. Akibatnya, transfer informasi pun membosankan, audiens juga kurang antusias, dan waktunya pun terasa lama alias nirefisien.

Seiring dengan semakin mudahnya akses terhadap teknologi dan informasi, audiens pun semakin kritis terhadap berbagai informasi yang didengarnya. Tidak tertutup kemungkinan, sebelumnya audiens telah mengetahui informasi yang disampaikan praktisi humas. Oleh karena itulah, petugas humas niscaya melek informasi dan teknologi, jangan sampai tertinggal oleh audiens atau publik.

Ketika menyampaikan informasi, petugas humas harus power of voice yang baik. Suaranya harus terdengar dengan jelas berikut volume dan intonasinya teratur, disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Pengaturan suaranya mesti proporsional dengan ekspresi dan bahasa tubuh. Tujuannya meyakinkan atau menguatkan informasi yang disampaikan kepada audiens. Di samping itu, informasi yang disampaikan perlu dikemas semenarik dan serelevan mungkin selaras dengan tujuan penyampaiannya. Membantu penyelarasan ini dapat dilengkapi dengan menyusun hand out atau bahan tayang. Dan, memperkaya bahan informasi praktisi humas perlu mencari dan meramu materi dari berbagai sumber, bukan hanya sekadar mengandalkan acuan yang ada. Praktisi humas harus banyak membaca seraya mengkaji dan menganalisis bahan-bahan informasi dari berbagai sumber guna melengkapi informasi yang hendak disampaikan. Juga perlu menyampaikan informasi secara kontekstual agar sesuai dengan perkembangan zaman, kebutuhan dan perkembangan kejiwaan publik, serta karakteristik lingkungan audiens atau publik secara umum.

Penggunaan Metode dan Media

Metode yang digunakan dalam aktivitas public speaking perlu bervariasi. Metode yang monoton akan cepat membosankan audiens lantaran hanya berlangsung satu arah. Kita perlu menggunakan cara-cara interaktif-dialogis guna memancing atensi dan antusiasme audiens. Oleh karena itu, praktisi humas harus menggunakan cara-cara yang dapat mempengaruhi alam bawah sadar audiensnya.  

Dalam pada itu, volume dan suara, raut muka, sorot mata, dan gerak tubuh dapat membantu memperlancar aktivitas public speaking supaya berlangsung menarik. Penyampaian informasi perlu diselingi dengan dialog atau tanya jawab dengan audiens. Sementara upaya mengusir kebosanan dapat diselingi dengan ice breaking, atau humor, tetapi harus tetap berkaitan dengan informasi yang disampaikan.

Kemudian berkaitan dengan media yang digunakan saat melakukan aktivitas public speaking. Praktisi humas mesti memilih media yang relevan dengan kondisi psikologis audiens. Dapat menggunakan media audio, dan dapat pula dengan media visual seperti gambar serta media audio visual seperti video. Apapun jenis media yang dipilih, tentunya juga harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai.

Dalam pada itu, seorang praktisi humas terlebih dahulu perlu mengetahui karakter audiensnya. Lantaran mereka menjadi subjek yang akan mendengarkan informasi yang disampaikan. Sedangkan audiens praktisi humas pada kegiatan penyampaian informasi adalah publik, sehingga cara penyampaian informasi pun mesti disesuaikan dengan psikologis publik (audiensnya). Pun, bahasa tubuh perlu disesuaikan dengan psikologi khalayak. Hal ini bertujuan supaya dapat menyesuaikan metode penyampaian informasi dengan latar belakang audiens. Sama halnya dengan waktu. Durasi waktu perlu diperhatikan dalam menyampaikan informasi dikarenakan keterbatasan memori seseorang dalam mendengar. Berdasarkan hasil riset psikolog, bahwa kemampuan manusia dalam mendengar tidak lebih dari 25 menit. Jika selama 25 menit pembicara hanya menyampaikan informasi, maka hampir dipastikan pada menit ke-26 pembicara akan kehilangan pendengarnya.

Banyak contoh saat kita menyampaikan informasi ada audiens yang kurang memahami konten informasinya. Bisa jadi salah satunya disebabkan oleh audiens yang kurang fokus memperhatikan isi informasi dari seorang pembicara, kantuk, dan sebagainya. Realita ini menjadi ironis manakala penyebabnya adalah public speaker kurang menguasai ilmu public speaking. Dalam konteks inilah, seorang praktisi humas harus terus meningkatkan kompetensinya mengenai public speaking agar ia mampu memenuhi harapan, kebutuhan, dan memberikan layanan terbaik pada publik.

Tips Sukses Berbicara di Depan Publik

H.D. Iriyanto Inspirator Metamorfosis Jogja Center mengutarakan, kiat-kiat 4T dapat dipelajari oleh seseorang untuk dapat menjadi public speaker. Pertama, ta’aruf, berusaha mengenal orang-orang yang akan menyaksikan kita berbicara. Kedua, tafalum, mencoba saling memahami atau mengetahui lebih mendalam kondisi orang-orang yang akan menyaksikan kita berbicara. Hal ini penting diperhatikan agar seseorang bisa menyesuaikan pesan yang akan disampaikan di depan umum. Ketiga, taawun atau menebarkan nilai-nilai saling membantu kepada sesama. Keempat, takaful atau menyebarkan nilai-nilai solidaritas. Kiat-kiat tersebut menjadi modal dasar untuk menumbuhkan rasa percaya pada diri seseorang.

Persiapan-persiapan di atas penting untuk dilakukan terlebih dahulu. Sebab tanpa adanya persiapan awal, hasilnya fatal memicu kegagalan seseorang saat berbicara di depan publik. Dengan demikian, tips-tips mengenal publik yang akan menyaksikan kita berbicara sangat penting diatensi untuk menjalin psikis terlebih dahulu untuk dapat terjalinnya keterikatan emosional dengan audiens agar pesan dapat tersampaikan dengan baik, serta yang paling penting mampu mengubah mind set maupun perilaku publik. Semoga.: (Sarjono, S.I.Kom Staf Humas dan Protokol Setda Kab. Lombok Utara) hebrig�~Q�}�

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*