class="entry-header mh-clearfix">

GORESAN MINI UNTUK PEMIMPIN DESA: SARJONO [Mantan Wasekjen PMII Cabang Jogjakarta]

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

PP. Tutorial. Tak ada yang bisa mengingkari kenyataan bahwa cermin baik buruknya wajah desa terlihat dari perilaku para pemimpinnya. Jika perilaku mereka diperlihatkan dengan sikap egois, berebut tahta, maka mata masyarakat awam pun akan melihat sebatas itulah moralitas pemimpinnya. Mereka tidak segan-segan menyatakan bahwa perbedaan pendapat dan pandangan adalah cermin demokrasi, tetapi tidak menyadari apa yang sedang dipertontonkan pada rakyat kerap kali  arogansi ‘kesombongan dan keangkuhan’ perilaku. Mereka juga beranggapan konflik merupakan bentuk dinamika dalam suatu komunitas masyarakat, tetapi ironisnya mereka tidak menyadari konflik yang sedang mereka perankan sebetulnya menjadikan rakyat muak dan miris. Rakyat tahu bahwa konflik tersebut bukan cerminan dari dinamika demokrasi, tetapi lebih sekedar arena “sabung ayam” memperebutan jabatan yang acap kali menghalalkan segala cara.

Aroma politik di tengah masyarakat berkecamuk dengan segala hiruk pikuknya, dan bahkan segala bentuk pencekalan saling unjuk kekuatan pun tak terelakkan. Konon, mereka menyebut diri sedang menjalankan metamorfosis, padahal semua itu hanya “dramaturgi” saja yang dibingkai menyerupai restorasi. Lambat laun aroma bunga bangkai pun tercium dan kemudian menyeruak dan menguap lantaran menyimpan banyak kebusukan dari permainan “psiwar” yang dijalankan dengan segala strategi dan taktik. Kebusukan dan pembusukan yang terjadi telah menyebar ke setiap sendi dan ruas dari tulang-tulang penyanggah tubuh, hingga yang tercium di mana-mana hanya aroma bangkai.

Penyakit politik belangan ini cukup kronis yang dinampakkan dengan ketidakjelasan arah mau dibawa kemana sebuah desa, semua serba tidak jelas dan seolah-olah dibuat tidak jelas oleh para pelakunya. Cukup beralasan jika kita khawatir lantaran demokrasi hanya melahirkan kesombongan para pemimpinnya. Kita juga emoh jika atas nama demokrasi, mereka bertingkah egois dan serakah. Mereka pun hanya mementingkan dirinya sendiri tanpa memikirkan apa yang sesungguhnya sedang menimpa masyarakat. Mereka juga asyik dengan egonya masing-masing. Ada yang ingin menggusur tokoh tertentu lantaran amat bersyahwat ingin jadi tokoh-tokoh “kutu loncat”-, berebut dukungan para pemuka di pelosok-pelosok kampung hanya untuk menambah amunisi power paksinya, dan seterusnya. Tak berlebihan sekiranya kita mengkategori ada dua “kondisi” yang saling bertentangan antara apa yang dialami rakyat, dan apa yang dicitak-citakan pemimpinnya (das sein-das solen). Bahkan realitas itu menegaskan bentuk dari ketidaksinambungan antara pemimpin dan yang dipimpin? Juga merupakan cermin minor sebuah desa, di mana simpati dan empati pemimpin atas pihak yang dipimpin, malahan justru semakin melemah ?

Dalam pada itu, di situasi lain, hari demi hari wajah masa depan dan tanda-tanda kehidupan yang sehat kian sulit didapati, semua tampak suram, serba ruwet, bahkan membingungkan lantaran orientasi ke depannya yang amat lemah. Berbagai kondisi yang tercipta pun serba by setting dan hanya untuk pencapaian orientasi jangka pendek saja serta untuk kepentingan elit tertentu semata. Semuanya serba gelap, tak ada sinar harapan, bahkan seakan pengharapan telah padam di hati sanubari warga, yang ada hanyalah letupan emosi dan egoisme yang dimuntahkan terus-menerus laksana lahar panas yang meleleh dari kepundan gunung berapi dan bermuara mengitari medan perpolitikan kita. Hawa panas yang dimuntahkan menjelma menjadi perpecahan di tubuh paksi-paksi lalu menghiasi setiap sudut komunitas warga. Situasi ini lahir akibat ketidakdewasaan para elit lokal mengolah konflik.

Ternyata benar bahwa konflik nyata-nyata dibutuhkan oleh elit agar makin “survival” di mata publik. Konflik juga menunjukkan dinamika tertentu dari paksi elit, namun di sejumlah wilayah desa terlihat cukup ironis, sebab konflik yang terjadi bersifat destrukrif. Mereka tidak berdebat soal bagaimana menata wilayah desanya ke depan, melainkan hanya sibuk mengurus perpecahan antarpaksi atau terkadang di intern paksi sendiri. Akibatnya, konflik dalam kutub paksi elit bukan memperkuat dinamika demokrasi itu sendiri, melainkan justru melemahkannya.

Situasi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, mengapa kutub paksi elit mudah terpecah-pecah, baik disebabkan kekuatan luar maupun kekuatan dalam paksi itu sendiri ? Jawabannya jelas: “kehilangan pemimpin berkarakter”. Simpulan ini diperoleh dari muara analisis penulis atas pergulatan realitas dinamika elit selama ini. Mereka telah kehilangan pemimpin yang berkarakter, lantaran yang bertengger di tubuh paksi elit bukanlah pemimpin yang “sudah jadi” atau pemimpin berkarakter, tetapi pemimpin “setengah jadi”. Pemimpin setengah jadi barang tentuk tidak memiliki karakter kepemimpinan. Baginya yang penting materi, jabatan, dan kekuasaan yang harus dicapai bagaimana pun caranya asal bisa direngkuh, sehingga kedamaian dan kesejukan kian jauh panggang dari apinya. Demi tahta, semua nilai-nilai untuk perjuangan yang tulus nan luhur lenyap terdefragmentasi dan terbang kemana-mana menghiasi angkasa raya. Ketaatan mereka bukan pada etika dan moralitas demokrasi, tetapi kepada materi belaka.

Bagi mereka, materi itu adalah segala-galanya. Demi mengejar semua itu, mereka rela kehilangan nama baik, bahkan mereka menganggap nama baik itu urusan gampang. Mereka pun beranggapan dengan materi (uang), nama baik bisa dipulihkan. Konsekuensinya, ketika uang dijadikan dewa dalam ranah politik, jangan berharap dapat muncul pemimpin yang berkarakter. Mereka itu ibarat “pemimpin sok alim tetapi zhalim”. Argumen ini mungkin mudah dipatahkan dengan retorika dan propaganda, tetapi bisakah mereka mengelak atas apa yang mereka lakukan dan sudah terdogma di benak masyarakat bahwa mereka itu tampak peduli hanyalah demi dan untuk uang ? Bukan untuk rakyat ?

Pemimpin Berkarakter

Pemimpin berkarakter adalah mereka yang mau bercermin terus-menerus dan berusaha untuk menjaga reputasi nama baiknya. Dalam hal ini, “nama baik” yang dimaksudkan bukanlah nama baik yang direkayasa dengan menyogok agar publik menyatakan dirinya memang orang baik padahal tidak baik, tetapi nama baik itu “lahir” karena setali tiga uang memang perilakunya terbukti baik terhadap rakyat. Demi nama baik, ia lebih baik memilih kehilangan tahta dan materi. Demi nama baik pula, ia tidak mau memisahkan diri dengan warganya.

Bagi pemimpin berkarakter, nama baik harus dijaga, berkorelasi dengan pepatah ”lebih baik mati daripada kehilangan nama baik”. Nama baik adalah segalanya bagi seorang pemimpin yang berkarakter. Karakter itu sebenarnya, “diri sendiri di tengah kegelapan”. Sebagaimana pernah diutarakan Dwigth L. Moody,… “saya memelihara karakter dengan berusaha memelihara reputasi saya sendiri”…

Sayangnya, kebanyakan elit kita telah memutarbalikkan logika di atas, lantaran bagi mereka lebih baik tidak punya nama baik, jika demi mempertahankan nama baik mereka justru kehilangan tahta sebagai pemimpin. Bahkan mereka pun berlomba-lomba menjadi pemimpin, padahal sesungguhnya mereka tak layak jadi pemimpin. Dengan dipegangnya tali mandat kekuasaan, tentu uang gampang dicari, rakyat gampang dikelabui, dan hal-hal sejenis lainnya. Itulah pendapat yang pernah diungkapkan dan cukup tersohor dari Thomas Hobbes puluhan abad silam, bahwa “manusia cenderung mau menguasai manusia lainnya, yaitu dengan cara mengubah dirinya menjadi serigala yang menerkam kesana kemari”.

Akibatnya, tentu pemimpin yang demikian itu sulit dipercayai oleh masyarakat sebab kata-katanya sulit dipegang lantaran sekedar untaian retorika semata. Mereka juga lantas hanya mengumbar janji, sekali berjanji terus-terusan mengingkarinya. Apalagi konsistensinya memang sulit dipegang lantaran mereka juga memiliki berbagai agenda tersembunyi.

Melihat cermin elit lokal ‘desa’ sekarang ini, masyarakat layak mempertanyakan kesadaran mereka. Tidak sadarkah mereka bahwa di tengah-tengah problematika yang dalami rakyat, justru mereka nampak berusaha mati-matian memperebutkan posisi kedudukan dan jabatannya dengan melupakan reputasi? Mengapa ini terjadi? Jawabannya, mereka telah kehilangan “ketulusan” lantaran telah terjebak oleh kondisi kesewenang-wenangan dalam menggunakan kekuasaannya. Pada akhirnya mereka pun gila hormat, gila jabatan dan gila harta. Perihal inilah yang membuat mereka menjadi silau dan menutup rapat pintu nuraninya. Mereka berpikir bahwa hanya dirinyalah yang paling benar dan paling tahu. Semua itu bersumber dari hilangnya cinta sejati dalam kalbu mereka, hingga mereka tidak peduli lagi terhadap aspirasi rakyat yang memilih mereka. Semua janji dimasa lalu hilang sirna karena ambisinya lebih kuat daripada ketulusan.

Kita berharap semoga mereka segera sadar dan menyadari ternyata rakyat membutuhkan “pemimpin” yang berkarakter, pemimpin yang bisa dipercaya, yaitu mereka yang memiliki mental pejuang sejati, dan dalam mental itu mereka akan melahirkan karakter ketulusan, keterbukaan, kepedulian, keteguhan dan filantropi. Wallahu’alam bisshowab

SARJONO [Mantan Wasekjen PMII Cabang Jogjakarta] 5_Q��B

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*