DIRINYA SEBAGAI KORBAN CYBER CRIME OLEH MEDIA ONLINE ABAL-ABAL. “PENGAKUAN EKO PATRIO.”

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

PP. Nasional. Anggota DPR RI sekaligus seniman Eko Hendro Purnomo alias Eko Patrio menyatakan dirinya sebagai korban kejahatan siber (cyber crime) yang dilakukan tujuh media online abal-abal yang diketahui hanyalah berupa blog yang menyerupai media online pada umumnya.

Ketua DPW Partai Amanat Nasional (PAN) DKI Jakarta itu bahkan menyebut apa yang dilakukan blog tersebut tak sesuai dengan kriteria media dalam UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan tak terdaftar atau terverikasi oleh Dewan Pers.

“Saya datang semata karena saya korban dari kejahatan cyber, korban dari media abal-abal,” ucap Eko saat bertandang ke Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Rabu (21/12/2016).

Eko menjelaskan, kedatangannya ke Dewan Pers untuk meminta bukti apakah tujuh media online itu benar-benar berupa media resmi sesuai undang-undang atau tidak.

Pasalnya, menurut Eko, keterangan dari Dewan Pers dibutuhkan untuk lanjutan proses hukum kasusnya di Bareskrim Polri.

Eko sendiri telah memenuhi panggilan Bareskrim Polri untuk memberikan klarifikasi apakah perkataan Eko bahwa penindakan teroris di Bekasi oleh pihak kepolisian beberapa waktu lalu merupakan upaya pengalihan isu yang sedang ramai saat ini, dugaan penistaan agama oleh Gubernur nonaktif DKI.

“Pada saat 16 Desember 2016 lalu saya klarifikasi (ke Bareskrim) tidak serta merta selesai masalah. Tetapi harus dapat surat pernyataan dari Dewan Pers. Ada dua pernyataan, apakah ini anggota Dewan Pers atau bukan. Kalo iya otomatis yang menyikapinya Dewan Pers. Bila bukan maka langsung bisa disikapi ke kepolisian,” papar Eko.

Eko pun bersyukur saat Dewan Pers menyimpulkan hasil penelusuran dan risetnya yang menyatakan tujuh media yang mencatut nama Eko dalam pemberitaannya itu bukanlah tergolong produk jurnalistik, melainkan hanya sebuah blog yang seolah-oleh tampilannya seperti media online pada umumnya.

Ia pun berharap apa yang menimpa dirinya ini tak terjadi oleh masyarakat atau tokoh-tokoh lainnya. “Saya ingin cukup saya aja yang kena, jangan temen politikus atau masyarakat yang tidak mengerti media menjadi kejahatan siber. Saya serahkan ke kepolisian. Saya sudah maafkan tinggal nanti disikapi kepolisian,” pungkasnya.

(aky)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*