BERMEDSOS YANG BERETIKA Oleh: Sastro .A. Syafaruddin

PEMBAHARUAN POST MENERIMA LAYANAN PEMASANGAN IKLAN DEMI KESUKSESAN DAN KEBERHASILAN USAHA ANDA

PP. Opini. Era kemajuan dengan kecepatan teknologi informasi digital saat ini serasa tak terbendung sama sekali. Banyak modus orang  menggunakan media sosial. Sebagian kalangan menggunakannya untuk aktivitas propaganda dan penyesatan, menyebar berita hoaks, serta ujaran kebencian. Sementara sebagian kalangan lagi untuk kepentingan karir dan bisnis, dan tak sedikit pula yang menggunakannya untuk menebar maslahat bagi pemberdayaan publik.  Hampir-hampir tak ada celah untuk mengistirahatkan diri dari perbincangan mengenai segala perbedaan yang tak akan ada habisnya. Mulai dari hal generik hingga hal spesifik, hal yang sepele hingga hal yang penting dan prinsip. Dinamis sekali dan saking berdinamikanya, akhirnya acapkali berfokus pada perbedaan pandangan. Mulai dari perbedaan politik, agama, sosial, perbedaan dalam merumuskan tujuan, hingga perbedaan remeh-temeh yang bahkan bisa menjadi bahan olok-olok orang secara kolektif.

Semakin mudahnya akses internet dan kemajuan teknologi komunikasi membuat siapa saja bisa saling berinteraksi satu sama lain menembus batas antarwilayah tanpa sekat ruang dan waktu. Begitu juga berbagai berita berseliweran di dunia maya dan bebas menyeruak ke gadget. Mulai dari berita olahraga, ekonomi, informasi bencana hingga berita politik, hukum, kriminal bahkan beragam tips gaya hidup sehat mewarnai lalu lintas informasi. Nyaris tak ada aral melintang. Lintang pukang wacana pun bebas lalu lalang tanpa batas. Ironisnya, justru di zaman ‘now’ amat marak asupan sesat berita palsu atau hoax bersirkulasi di media sosial. Jika berita yang kita bagikan secara retweet, forward, share, atau broadcast terbukti berita palsu, penyebarnya akan dikenal sebagai orang yang bodoh dan bahkan dungu.

Awalnya mungkin saja maksudnya baik. Tujuannya ingin mencoba sharing informasi agar masyarakat bisa lebih waspada, tetapi kemudian apa yang terjadi ? Justru orang akan makin kalut akibat pesan berantai yang tidak jelas sumber dan kebenarannya. Jikalau memang berita tidak terklarifikasi dengan benar, alangkah bijaksananya konten pesan tersebut berhenti di tangan penerima dan tidak perlu disebarkan lagi. 

Dalam kajian literatur ushul fikih misalnya diterangkan dengan begitu jelas definisi sebuah kabar atau berita, yakni sesuatu yang mungkin benar sekaligus mungkin salah. Dan, bahkan dalam diskursus hadist, ada sebuah ilmu khusus yang membahas tentang para informan hadist. Sebuah ikhtiar memverifikasi kesahihan periwayatan melalui sumbernya.

Lalu bagaimana dengan berita yang lalu lalang di media sosial ? Apakah semua kabar yang lewat di beranda facebook, twitter, instagram atau berita daring, bisa dipastikan kebenarannya? Lalu serta merta diamini dan dibagikan kepada orang lain tanpa melakukan proses verifikasi kebenaran konten beritanya? Siapa penulis beritanya? Apa motifnya dan tujuannya?

Maka, mari introspeksi diri, agar kita tidak terjebak dan terjerembab dalam kubangan para pembual dan pemfitnah. Salah satu penyebab perpecahan umat yang amat mengkhawatirkan sekali sekarang ini adalah penerimaan (tanpa kritis) seseorang atas ucapan atau berita dari orang lain. Di mana berita tersebut memicu perselisihan. Berapa banyak kerugian yang ditimbulkan dari sebuah berita hoax yang pada akhirnya melahirkan penyesalan? Berapa banyak pula produk berita yang berkembang di tengah masyarakat yang jauh dari fakta? Oleh karens itu, manusia sebagai makhluk yang berakal, harus hati-hati dalam menerima isi pesan dari sebuah berita. Mesti melakukan proses seleksi dan filter terlebih dahulu. Kita tak boleh sembrono menerimanya begitu saja.

Bukankah Allah SWT. telah mewanti-wanti umat Islam sebagaimana pesan dalam Qur’an Surat Al-Hujurat ayat (6) agar kita tidak bertindak gegabah dalam membenarkan sebuah berita yang disampaikan oleh orang fasik. “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Ayat ini menegaskan umat Islam agar selalu berhati-hati dalam menerima laporan atau berita dari seseorang yang tidak diketahui asal-usulnya. Baik itu  dalam ranah persaksian maupun dalam periwayatan. Dalam konteks era hari ini, kita dituntut agar berhati-hati dalam menerima pemberitaan dari media apa pun, terlebih media yang kontennya sarat dengan muatan ‘hasad’ kepada pihak lain.

Islam sebagai agama yan rahmatan lil’alamin bagi alam semesta telah memberikan petunjuk kepada umatnya dalam melakoni kehidupannya, agar sesuai dengan tuntunan syariat. Para ahli ushul fikih pun ternyata sudah sejak ratusan tahun yang silam telah merumuskan konsep universalitas syariat dengan memetakannya menjadi lima prinsip dasar; menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga akal sehat, menjaga harta, dan menjaga harga diri. Kelima prinsip dasar universalitas syariat tersebut, sebetulnya haruslah menjadi pegangan, pedoman dan acuan keberagamaan seorang muslim dalam melaksanakan tuntunan agamanya.

Sikap kita sebagai warga negara yang baik adalah membantu menciptakan suasana kondusif kembali secara etik melalui upaya pembuktian kebenaran berita tersebut kepada masyarakat.

Setidaknya ada lima langkah dalam mencari kebenaran informasi antara lain. Pertama, informasi melalui apa pun, entah bermedia ataupun tidak, sebaiknya ditanyakan kepada pihak yang mengetahui betul duduk persoalannya. Caranya, kita bisa menghubunginya langsung melalui akun sosial media miliknya, mencari informasi tentang akun twitter atau facebook pihak terkait yang berkaitan dengan konten berita tersebut untuk mendapatkan konfirmasi lebih cepat dan tepat. Bisa juga dengan menelepon secara langsung. 

Kedua, bilamana kita tidak mempunyai akses komunikasi dengan pihak terkait sebagaimana langkah pertama, kita pun bisa langsung searching via google di internet. Bandingkan berbagai informasi yang sama terkait dengan berita yang diterima. Bisa jadi saat kita melakukan pencarian, ternyata sudah ada link informasi atas klarifikasi berita tersebut. Pertimbangan saja, pastikan berita yang kita investigasi tersebut telah dimuat pada kantor-kantor berita besar, bukan blog pribadi atau forum bebas yang tak jelas kredibilitasnya.

Ketiga, periksa sumber. Sumber berita biasanya dicantumkan di akhir tulisan. Penulis yang baik dan bertanggung jawab atas isi tulisannya biasanya mencantumkan sumber tulisannya. Kecuali tulisan tersebut hanyalah opini pribadi, bukan berita investigasi. Mulai bangun korespondensi dengan sumber tersebut bila ia memiliki akun medsos. 

Keempat, bilamnana informasinya berupa artikel yang terkesan ilmiah dan masuk akal yang mengutip pendapat dari ilmuwan ternama, maka pastikan kebenaran artikelnya melalui sumber-sumber primer dunia ilmiah. Misalnya jurnal ilmiah/akademis yang diterbitkan institusi ilmiah tertentu, dan buku-buku teks akademis.

Kelima, coba ketik kata kunci artikel dalam bahasa Inggris. Beberapa artikel hoax kebanyakan bermula dari luar negeri. Cobalah cek artikel yang Anda curigai hoax di situs-situs luar negeri. Banyak berita hoax yang sudah dibuktikkan ke-hoax-annya oleh situs luar negeri. Oleh penyebar hoax lokal bisa saja hoax itu diterjemahkan, lalu disuguhkan lagi, bahkan kontennya dimodifikasi seperti perubahan nama pelaku dan tempat untuk konsumsi masyarakat luas. Semoga masyarakat negeri ini kian peduli, teliti, cerdas, dan senantiasa mengedepankan etika dalam bermedsos. “Bermedia sosial yang beretika”. Semoga (*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*